Melukis Kehidupan
Langkah langkah dalam hidup itu bagaikan kuas yang menari nari di atas kanvas. Kita bisa mencoret coretkan warna warni ke dalamnya…kita bisa menumpahkan tinta hitam ke seluruh badan lukisan….kita bisa membentuk sketsa sketsa abstrak tak terbaca..kita bisa menggambar dengan lugas sehingga orang mudah mengartikan maknanya… bahkan kita bisa membiarkan kanvas itu tetap putih tanpa ada satu coretan pun di atasnya.
Hidup bagaikan melukis di atas kanvas… kita bisa memilih warna warni cerah yang akan mencerahkan hidup kita dan membuat kita bahagia, kita bisa menumpahkan tinta hitam apabila kita menginginkan hidup yang kelam…kita bisa memebtnuk abstrak apabila kita menginginkan kita tak mengerti diri kita mau jadi apa..bahkan kita bisa tidak melakukan apapun di kehidupan ini, untuk menjadi orang yang enggan melakukan perubahan dan stagnan di tempat yang sama dan menjadikan hidupnya membosankan.
Memang benar Allah menuliskan takdir kita di dalam lauhul mahfudz yang bahkan kita tak dapat menebak apa isinya. Namun, kita juga mempunyai hak untuk melukis kehidupan kita. Mau jadi orang yang bahagia kah?mau jadi orang yang terus bersedih dan terpuruk kah?mau jadi orang sukses atau mau jadi oorang yang gagal kah? Mau tersenyum atau menangiskah? Semua ada di tangan kita…karna kita lah yang memegang kuas untuk melukis kehidupan…
*alhamdulillah…pukul 08.45-10-30 tadi saya mendapat kesempatan sharing dengan seorang manager yang baik hati di tempat kerja saya. Dan mengenai “melukis kehidupan” yang saya tuliskan di atas, adalah salah satu hikmah yang saya dapatkan dari sharing bersama beliau. Teruntuk Pak Budi yang saya hormati, terimakasih atas pelajarannya hari ini pak.. ^_^, semoga kita bisa terus menjadi pelukis pelukis yang melukiskan kehidupan yang indah dalam kehidupan kita..amien...
gambar diambil dari : Geschichte

benar hidup kita ditentukan oleh tangan kita sendiri, Allah tidak akan merubah nasib hambaNya apabila dia tidak berusaha merubahnya sendiri
04/03/2011 pada 11:13 am
yup…
““Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” QS 13:11″
jadi…yuk…mulai melukis yang indah untuk kehidupan kita..
13/03/2011 pada 4:19 pm
Betul betul betul
05/03/2011 pada 1:10 am
sodaranya upin mas???hehehe
13/03/2011 pada 4:22 pm
“Semua ada di tangan kita…karna kita lah yang memegang kuas untuk melukis kehidupan…” kita, wow.. hmm belajar melukis ahh..
05/03/2011 pada 7:47 am
betul betul betul
05/03/2011 pada 1:52 pm
“Melukislah seperti halnya ketika kau kecil dulu, seperti waktu kecil yang tidak tahu akan seperti apa hasilnya, bagus atau tidak, enak dilihat atau tidak, indah atau tidak. Karna yang terpenting buat kita sewaktu kecil adalah mewarnai jiwa kita dalam prosesi melukis itu”
Ingatkah? Ketika kita kecil dulu, kita melukis dengan gelak tawa, dengan warna-warni kuas yang belepotan di antara jari-jari, dengan kertas yang sempat sobek karna ‘berebutan’ dengan yang lain, dan mungkin kita sempat menangis karna itu, tetapi lihatlah kita sewaktu kecil, adakah kita merasa terbebani itu semua? Gak kan yah, indah bukan masa-masa itu, di saat semuanya seperti permen manis yang tak kunjung habis, ya, sewaktu kecil kita melukis di atas kanvas dengan penuh kegembiraan ..
Ah, andai kita bisa ‘melukis kehidupan’ di masa dewasa ini dengan jiwa ‘si kecil’, dengan jiwa yang penuh warna, yang tidak takut akan seperti apa nantinya, yang tidak khawatir mau seperti apa hasilnya, yang bisa mewarnai kehidupan orang lain dengan senyum keikhlasan, yang mampu menangis dengan penuh ketulusan, ya, andai kita bisa melukis kehidupan dengan jiwa ‘si kecil’ …
Bisa kah? Harus! Semangat!
05/03/2011 pada 9:09 pm
Melukis Kehidupan dalam tulisan Indah ini,subtansinya sangat luas ya
Ramdhani sebagai mahasiswa bisakah anda berpikir lebih jauh kedepan? (Semangat)
Bagaimana kalau subtansi tulisan ini,kita tarik kesubtansi “melukis kehidupan” seperti yang dimaksud para tokoh dibawah ini?
Tiffatul Sembiring.
Warnai hari ini dengan senyum berseri.Apapun yang dihadapi tetap syukuri.
Anis Matta.
Sepanjang kita terhubung dengan langit.. Tidak ada mudharat di bumi yang perlu dikhawatirkan..
Bung Karno.
Berilah Aku 10 Pemuda!..akan Rubah Dunia!.
06/03/2011 pada 8:22 am
Saya mengerti bahwa tulisan Teh Indah ini memiliki makna yang tidak sesempit yang saya kira, bahkan mungkin keluasannya melebihi imajinasi saya tentang apa itu ‘melukis kehidupan’..
Namun, mohon maaf, mungkin saya dan Mas Farid menyoroti dari sudut pandang yang berbeda sehingga saya terkesan tidak memiliki pandangan jauh ke depan, mungkin begitu ..
Ah ya, saya kan masih mahasiswa, belum dapat merasakan sejauh itu, hanya berusaha menerawang tentang keluasan ‘melukis kehidupan’ dari sudut pandang saya
Saya tidak meragukan tentang makna ‘melukis kehiupan’ yang luas, saya yakin tiap orang memiliki paradigma masing2, dan cara masing2 untuk melukis dan mewarnai kehidupannya ..
Saya hanya sekadar membandingkan atau mungkin sekadar menggambarkan bagaimana cara ‘si kecil’ melukis kehidupannya.. hanya itu..
Saya yakin Mas Farid lebih paham segala sesuatunya, merci
06/03/2011 pada 9:44 pm
Kalau melihat ‘filosofi’ tulisan, sepertinya bernada “protes”
(secara lebih spesifik tentunya Indah yang lebih ngerti)
tetapi dalam menulis (tulisan ini)sangat terlihat Indah tidak sedang melihat kebelakang (hari kemarin) Indah justru mengajak pembacanya untuk melihat kedepan. (Kata orang filososi,isi tulisan (lukisan)akan menggambarkan suasana hati (pikiran) orang yang menulisnya (pelukisnya). Intinya yang dibaca bukan tulisannya tapi pikirannya.
Dan sebetulnya subtansi komen Ramdhani,bisa dipadatkan menjadi, melukislah dalam kehidupan atau berbuatlah dalam kehidupan dengan cara yang lepas. Kata “lepas” menjadi lebih halus dan luas maknanya di banding menggunanakan kata ‘sikecil’. Penggunaan kata ‘si kecil’ menggambarkan keangkuhan Ramdhani (meski mungkin Ramdhani tidak bermaksud begitu)tetapi orang bisa menilainya begitu.
07/03/2011 pada 8:54 am
Ya, mungkin begitu …
Keangkuhan?
Ah, bagi saya tidak begitu.. Adakah keangkuhan dari diri ‘si kecil’? Saya rasa tidak, dan saya tidak bermaksud untuk mengangkuhi diri..
Saya lebih senang menggunakan kata ‘si kecil’ dibanding kata yang lain karna menurut saya penggambaran ‘si kecil’ dalam pikiran saya adalah sebuah jiwa yang luas yang tak takut untuk melangkah, tidak takut untuk ditertawai ataupun direndahkan, ya, bagi saya (entah buat yang lain) ‘si kecil’ di sini memiliki arti luas yang bebas, dibanding kata lainnya.
Mudah-mudahan Allah mengampuni saya yang khilaf..
08/03/2011 pada 5:06 pm
Dhan,coba lihat linknya,catatanpelangi di kolom bawah..
Kalau di topik dia “padanya saya belajar” yang lagi pamer baby,kemudian Ramdhani menggunakan kata “si kecil”,saya pikir relevan deh
cara melukis kehidupan yang indah saya kira
tetapi kalau di topik ini rasanya OOT deh..ok Dhan,gak usah dimasukin ke hati
“yang Pasti itu hanya Allah,kita hanya manusia biasa”.
09/03/2011 pada 12:46 am
hhehe, sip
terima kasih …
14/03/2011 pada 2:27 pm
kita memilih yang terbaik u kita ya mbak,,hidup adalah pilihan…
06/03/2011 pada 10:53 am
iyah mba putri… hidup adalah pilihan….
ketika kita sudah memegang kuasnya..maka cukuplah kita memilih melukis lukisan yang indah …. lukisan kebahagiaan…menjauhi lukisan suram… dan hidup kita akan bahagia..
13/03/2011 pada 4:27 pm
walopun sudah ada skenario yg sudah pasti dalam hidup kita… tapi bukan berarti kita tidak bisa berimprovisasi..
06/03/2011 pada 2:33 pm
Subhanallah mencerahkan sekali..bener bgt..hidup itu pilihan..pilihan kita sendiri ingin seperti apa hidup ini
makasih ah
06/03/2011 pada 3:52 pm
kesan pertama kesini= Walah, temanya sama!
Kalo saiia sih diajarkan untuk selalu mewarnai kanvas hidup saiia dengan cat warna-warni setelah menumpahkan cat hitam pekat
06/03/2011 pada 6:06 pm
Kalo kita pasrah, ga mau campur tangan karena sudah tau semuanya tertulis di lauh mahfuz sih ga bakal asik, karena kita ga akan menolak apapun hasil terakhir yang di dapat.
Ikutan menggambar kehidupan juga y mba
06/03/2011 pada 8:03 pm
salam kenal……wah theme nya sama….salam kenal di dunia maya
06/03/2011 pada 9:19 pm
betul sekali..hidup adalah pilihan..kita harus bisa memilih jalan mana yang harus dilalui untuk cepat mencapai kehidupan yang kita inginkan.
06/03/2011 pada 9:24 pm
melukis kehidupan ….
dengan warna warni yang indah,, tapi tidak dengan asal …
tetapi sesuai pakem Sang Maestro pemilik kehidupan
semoga kita semua memiliki hidup yg indah
seperti warna warni pelangi
salam hangat,
pelangi
06/03/2011 pada 11:32 pm
setuju….. mantap banget dah indahnya melukis kehidupan..
07/03/2011 pada 12:35 am
apa ya yang akan saya tinggalkan di dunia ini kalau kelak saya pergi?
lukisan seperti apa yang akan di kenang orang – orang?
07/03/2011 pada 11:30 am
lukisannya yang di atas bagus indah
lukisan yang kita buat di atas kanvas hidup tergantung pada diri kita masing2
07/03/2011 pada 1:18 pm
Maka lukislah kehidupan kita dengan cinta. Apapun itu, barengi dengan cinta. Insya Allah …
07/03/2011 pada 5:16 pm
Sibghoh Alloh (Celupan Allah)! Siapakah lagi yang lebih indah celupannya dari pada Allah ?Dan kami, kepada Nyalah kami menghambakan diri. (Al Baqarah 138)
Sibghoh Alloh itu artinya adalah Al Islam dan As Sunnah. Jadi Sibghoh Allooh adalah celupan dan warna yang benar, baik dan indah; yaitu jika seorang manusia menetapi dan menepati al Islam dan as Sunnah selama hidupnya dalam berbagai perkaranya.
Shibghah atau agama Allah yang dikehendaki sebagai risalah-Nya yang terakhir yang ditunjukkan kepada segenap manusia yang dimaksud untuk tegaknya wihdah insaniyah, kesatuan manusia yang memiliki pandangan luas, tidak berpikir sempit, tidak bersifat dengki dan dendam, tidak membedakan manusia berdasarkan jenis golongan atau ras serta warna kulit tertentu.
Bagaimanakah shibghah itu akan tampak dalam kehidupan individu yang mencelupkan diri ke dalamnya? Individu itu akan bersifat seperti ayat berikut ini : Mereka itu adalah orang-orang yang bertaubat, yang beribadat, yang memuji (Allah), yang melawat, yang ruku`, yang sujud, yang menyuruh berbuat ma`ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang mu’min itu.(At-taubah : 112)
08/03/2011 pada 10:36 am
sing ga mudheng komentar yg mana Ndah??
10/03/2011 pada 6:00 pm
hidup kita adalah tanggung jawab kita sendiri
08/03/2011 pada 1:06 pm
Perkenalkan, saya biasa dipanggil tri, ceritanya kesasar masuk blog indah. Namun saya tertarik untuk memperkenalkan diri sekaligus berkomentar..
Indah sekali, sesuai namanya.. Melukis kehidupan.. mmm… Inilah seorang indah memandang kehidupan, pemegang kuas, tinggal pilih mau melukis apa, hidup adalah pilihan…namun Tuhan telah memberikan pakem.. jangan keluar dari pakem, begitu kira2..
Teruslah kita melukis, penuh warna hingga tuntas di kanvas kehidupan…
hmmm…kira2 sesekali keluar pakem untuk lebih berekspresi bolehlah..supaya hidup lebih berwarna dan bergairah..
Saya sendiri mencoba keluar pakem, pada saat yang sama, melukis sekaligus di dua kanvas kehidupan dengan tema dan pilihan warna yang berbeda…mencoba keluar total dari pakem… Bebaas..
Pesan dari pelukis, jangan takut menarik garis..
10/03/2011 pada 11:19 pm
gadisku pujaan hatiku…
Kau terlalu sempurna untuk ku miliki
atau sekedar untuk ku cintai
Nafasmu begitu sayup, detak jantungmu adalah irama terindah
Pandangan matamu mampu menembus dadaku
Hingga terlihat jelas jantungku yang berdetak sangat keras
Sifatmu lembut melebihi sutra sekalipun
Dan saat aku membelai rambutmu, kedamaianlah yang kurasakan
Gadisku, pujaan hatiku…
Kesempurnaan’mu membuatku seakan begitu lemah
Keanggunan’mu membuatku seakan begitu buruk
Dan kharisma’mu membuatku tak berdaya menahan badai cinta.
29/09/2012 pada 1:47 pm