Gadis Pelangi di Negeri Lampion Ungu
Dia adalah gadis pelangi, gadis cantik yang hidupnya selalu penuh warna dan keindahan. Semua yang memandangnya pasti takjub, sebagaimana ketakjuban terhadap sang pelangi.
Gadis ini tinggal di Negeri Lampion Ungu. Ya, diantara warna warna pelangi yang ada, gadis ini memilih untuk mencintai warna ungu, dan tinggal di negeri lampion ungu. Disana dia menari, disana dia menari, disana dia mencari jati diri, dan disana dia menulis beribu puisi.
Ya..ungu,sebuah warna yang merupakan kombinasi biru dan merah, oleh sebab itu warna itu bersifat hangat sekaligus sejuk … seperti gadis itu, saya dan dia belum pernah bertemu, namun kehangatan pelukannya dalam silaturahim ini benar benar bisa saya rasakan. Dan secarik puisi darinya pagi itu, benar benar menyejukkan hati saya. (lagi…)
Dear Jodohku …..
Kepada :
Jodohku di Masa Depan
Assalamualaikum…Dear jodohku…..Apa kabar? Semoga selalu dalam dekapan kasih sayang Allah swt yah…amien…
Dear…Sebelumnya aku tak pernah mengira pertemuan singkat itu akan berakhir indah seperti sekarang ini. Ya….waktu kita bertemu di tempat itu…. Waktu kau bahkan tak menyapaku sedikitpun. Kau hanya memasang tampang lugu, sambil tertunduk malu entah kenapa.. yang baru ku tau sekarang bahwa pada saat itu kau sedang melakukan “ghaddal bashar” yang kau lakukan untuk menjaga pandanganmu dari yang tidak seharusnya kau pandang. (lagi…)
Saya akhiri dengan ‘Ya’ (ي)
Tetes – tetes air hujan masih riang bergemeretak di atap rumah kontrakan saya di Padang. Mata saya mengantuk tapi enggan untuk tidur, handphone saya terus berbunyi namun saya enggan menyentuhnya, namun tenggorokan saya yang begitu kering tak ayal membuat saya beranjak juga dari tempat duduk saya di sudut kamar. Saya akhirnya berdiri dan melangkahkan kaki untuk mengambil segelas air putih dan dengan cepat kembali ke tempat duduk saya tadi.
Hari ini adalah hari sabtu, 5 maret 2011. Hari dimana Padang terasa begitu sejuk, tidak begitu panas seperti hari hari biasanya. Hari ini adalah hari dimana saya menapakkan lisan saya untuk menuju gerbang penutup Ayat ayat Cinta Nya. (lagi…)
Melukis Kehidupan
Langkah langkah dalam hidup itu bagaikan kuas yang menari nari di atas kanvas. Kita bisa mencoret coretkan warna warni ke dalamnya…kita bisa menumpahkan tinta hitam ke seluruh badan lukisan….kita bisa membentuk sketsa sketsa abstrak tak terbaca..kita bisa menggambar dengan lugas sehingga orang mudah mengartikan maknanya… bahkan kita bisa membiarkan kanvas itu tetap putih tanpa ada satu coretan pun di atasnya.
Hidup bagaikan melukis di atas kanvas… kita bisa memilih warna warni cerah yang akan mencerahkan hidup kita dan membuat kita bahagia, kita bisa menumpahkan tinta hitam (lagi…)





komentator indah