Menulis di atas semangkuk mie instan (the power of syukur)
Malam ini saya tengah duduk tersudut sendiri di sebuah warung tenda kecil di bilangan grogol jakarta barat. Deru kendaraan berlalu lalang lengkap dengan sahut sahutan klakson dari mobil mobil mewah yang saling beradu untuk menjadi yang terdepan memekakan gendang telinga saya. Kota ini benar benar kota besar,ya…benar benar besar,dan hingar bingar. (lagi…)
Surakarta, Saya pamit….
Setumpuk kertas berisi corat coretan angka dan gambar gambar tidak jelas saya kumpulkan menjadi satu dan saya masukkan ke dalam ransel saya. Kabel, tisu,handphone, berkas berkas, dan juga surat surat tagihan telepon pasca bayar saya tak ayal turut saya masukkan ke dalam ransel. Hari ini saya ingin meja saya bersih dan rapi, sama seperti pertama kali saya menemuinya. Hari ini saya tidak ingin ceroboh meninggalkan barang barang saya di tempat kerja saya ini.
Sebuah sketsa perempuan berjilbab yang ada di sebelah kanan meja kerja saya memang sudah ada sejak dulu, lengkap dengan secarik kertas penyemangat bertuliskan surat Al Baqarah ayat 153 yang selalu menentramkan hati saya. Saya memandangi kedua kertas yang tertempel di bilik meja kerja saya, saya tersenyum memandanginya, mengusapnya perlahan, dan menguncinya di dalam memory saya.
Masih teringat jelas ketika saya pertama kali bertemu satpam di tempat kerja saya ini, ia mempersilahkan saya untuk duduk dan menunggu di kursi dekat tangga lantai dua. Kemudian seorang staff HRD menghampiri saya yang telah menunggu hampir satu jam, lalu dia mengajak saya berkeliling kantor untuk memperkenalkan saya kepada rekan rekan kerja saya. Tidak banyak nama ang saya ingat pada waktu itu. Hanya nama manager, nama leader, dan nama beberapa orang bapak yang satu ruangan dengan saya yang saya hafal betul. Lainnya, saya lupa.
Pulang…
Matahari membasuh kelopak mata saya yang mulai mengedip karna tak tahan dengan silaunya. Jalanan masih sepi, dan tangan saya menari nari menembus kabut tebal yang menghiasi rona pegunungan itu. Pandangan saya tak lepas dari kedua gunung yang selalu saya rindukan. Sindoro di sebelah kanan saya, dan Sumbing di sebelah kiri saya. Di situlah tanah dimana saya dilahirkan, tempat dimana saya pertama kali mengumbar tangis dan mendengarkan kumandang adzan yang dilantunkan oleh ayah saya. Tanah kelahiran saya, di kaki gunung Sindoro Sumbing, masih tetap indah,masih tetap mempesona, dan nyatanya masih membuat dahaga kerinduan saya mencair. Petak petak sawah yang tersusun rapi dan selalu menghijau, wangi aroma tanah, air sungai yang mengalir jernih bergemericik, dan udara yang sangat menyegarkan hati dan pikiran saya. (lagi…)
Keindahan itu hampir berakhir :’(
Selamat pagi dunia, selamat pagi indah,selamat pagi boneka boneka yang menemani tidur saya semalam…..^_^. Pagi ini saya melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju ke depan cermin. ” Hi,i’m pretty i’m so cool, i’m smart and beautiful
” .. ucap saya pada sepotong bayangan yang nampak di cermin pagi ini,untuk memotivasi diri saya sendiri agar lebih bersemangat di pagi yang indah ini. Saya membereskan tempat tidur, merapikan boneka boneka saya, dan membuka jendela agar udara dingin yang menyegarkan masuk ke kamar saya.
Pukul 04.30 pagi, saya sudah menghabiskan sarapan yang saya beli dari warung depan kos,dan saya kembali ke kamar. Saya terdudu di kursi dan memandangi Al Quran (lagi…)
Lonely is so Lovely
Malam ini saya menerobos pekatnya malam,menyusuri sepanjang jalan yang ramai, melintasi sekumpulan manusia yang tampak memamerkan riak riak canda mereka di sela sela tangis yang saya sembunyikan malam ini. Letih, dan akhirnya saya memutuskan untuk berhenti berjalan dan duduk di sebuah meja di sebuah rumah makan kecil yang kental dengan nuansa etnik solo dengan gazebo di atas kolam kecil dan meja meja kayu yang indah.
Saya memesan seporsi nasi goreng sosis dan segelas air putih, dan menunggunya di sebuah meja kecil di sudut ruangan sambil memutar mutar handphone saya. Segelas air pu (lagi…)
Di sudut malam aku bersimpuh
Saya mengemasi mukena, al quran, dan dompet yang berisi uang pas pasan ke dalam tas kecil saya, lalu bergegas menyambar kunci motor dan membawa motor saya ikut serta dalam perjalanan saya sore hari ini. Saya akan menuju ke masjid raya fatimah, sebuah masjid yang terletak di daerah Singosaren kota Solo. Masjid yang sering disebut dengan “surga” oleh para pengunjungnya ini memang benar benar masjid yang indah, belum lagi masjid ini memiliki kualitas imam dan penceramah yang sangat baik di setiap hari terutama di bulan Ramadhan.
Senja menyelimuti langit, suara syahdu puji pujian dari beberapa masjid terdengar bersahut sahutan, jalanan kota Solo yang sedari siang lengang sore itu nampak mulai menuju ke arah kemacetan kecil di beberapa ruas. (lagi…)
Durian dan Ramadhan
Dear diary,
Ketika hati tak mampu bicara, ketika mata tak sanggup meraba, maka segala ciptaan Allah menjadi petunjuk tersendiri akan keindahan alam yang ada di dunia, untuk yang hidup didalamnya,dalam angan untuk menggapai surgaNya.
Durian dan Ramadhan…
Siapa pula yang tak suka durian… buah lezat dengan wangi menggugah selera….dibalut duri yang menyimpan biji berdaging buah tebal penuh kenikmatan,,,,, aih…aih.. ![]()
Dan siapa gerangan tak cinta ramadhan,.. bulan penuh hikmah..dibalut pahala….menyimpan berjuta ampunan….yang membawa kita kembali kepada fitrah…,yang nikmatnya tiada terkira….Subhanallah..
(lagi…)







komentator indah